psikologi rasa benci

mengapa musuh bersama bisa menyatukan kelompok yang retak

psikologi rasa benci
I

Pernahkah kita mengamati sebuah keajaiban kecil yang ironis di tempat kerja atau di kampus? Dua orang yang biasanya tidak pernah akur, selalu berdebat, dan rasanya siap saling terkam kapan saja, mendadak bisa duduk ngopi berjam-jam sambil tertawa bersama. Penyebabnya? Ada manajer baru atau dosen yang kelakuannya sangat menyebalkan. Tiba-tiba, segala perbedaan di antara mereka menguap begitu saja. Mereka menemukan titik temu yang paling solid: membenci orang yang sama.

Secara logika, ini terasa absurd. Bagaimana mungkin perasaan negatif seperti kebencian justru menjadi lem perekat yang paling kuat untuk menyatukan manusia? Namun, jika kita melihat sejarah panjang peradaban kita, pola ini berulang tanpa henti. Dari faksi-faksi politik yang saling sikut lalu berkoalisi demi menjatuhkan lawan yang lebih besar, hingga negara-negara berseteru yang mendadak beraliansi saat ada invasi asing. Ada sebuah pepatah kuno yang sangat akurat menggambarkan ini: musuh dari musuhku adalah temanku.

II

Mari kita renungkan sejenak, teman-teman. Membangun koneksi lewat hal-hal positif itu butuh waktu dan tenaga. Kita harus mencari kesamaan hobi, menyelaraskan prinsip, dan membangun kepercayaan pelan-pelan. Prosesnya rumit. Tapi kebencian? Kebencian itu ibarat mie instan. Cepat, murah, dan langsung memuaskan rasa lapar emosional kita.

Ketika kita memiliki musuh bersama, kita tidak perlu repot-repot menyukai satu sama lain. Kita hanya perlu sepakat bahwa ada satu pihak di luar sana yang lebih buruk, lebih salah, dan lebih berbahaya daripada kita. Di titik inilah sebuah kelompok yang awalnya retak dan penuh konflik internal bisa tiba-tiba menjadi solid.

Tapi, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kesadaran kita? Mengapa ilusi persatuan ini terasa begitu nyata dan memabukkan? Apakah otak kita memang sengaja diprogram untuk lebih mudah bersatu di bawah bendera permusuhan?

III

Untuk menjawabnya, kita harus memutar waktu ke musim panas tahun 1954. Seorang psikolog bernama Muzafer Sherif melakukan sebuah eksperimen lapangan yang kini sangat legendaris, dikenal sebagai Robbers Cave Experiment. Sherif mengumpulkan 22 anak laki-laki berusia 11 tahun di sebuah perkemahan. Anak-anak ini normal, sehat, dan tidak saling kenal sebelumnya. Mereka kemudian dibagi menjadi dua kelompok terpisah.

Awalnya, setiap kelompok bersenang-senang sendiri. Namun, ketika Sherif mulai mempertemukan kedua kelompok ini dalam berbagai perlombaan kompetitif, neraka kecil bocor di perkemahan itu. Mereka mulai saling mengejek, membakar bendera kelompok lawan, hingga mencuri barang. Dua kelompok anak baik-baik ini berubah menjadi suku primitif yang siap berperang.

Lalu, Sherif melakukan sebuah trik. Ia merusak saluran air perkemahan dan membuat truk pengangkut makanan mogok. Tiba-tiba, kedua kelompok yang bermusuhan ini dihadapkan pada krisis besar. Mereka kelaparan dan kehausan. Tebak apa yang terjadi? Permusuhan mereka lenyap. Mereka bahu-membahu menarik truk yang mogok dan memperbaiki saluran air. Konflik internal sirna karena ada ancaman eksternal. Namun, pertanyaan terbesarnya adalah: perubahan biologis apa yang memicu pergeseran drastis dari saling benci menjadi saling bantu ini?

IV

Di sinilah hard science memberikan jawaban yang mengejutkan. Mari kita berkenalan dengan sisi gelap dari hormon cinta. Selama ini kita mengenal oksitosin sebagai hormon yang memicu empati, kasih sayang, dan ikatan emosional. Oksitosin mengalir deras saat seorang ibu memeluk bayinya atau saat kita berkumpul dengan sahabat. Namun, penelitian neurosains modern menemukan fakta yang agak mengerikan: oksitosin ternyata mempromosikan etnosentrisme.

Artinya, hormon ini memang membuat kita sangat setia dan rela berkorban untuk kelompok kita sendiri (in-group). Tapi di saat yang sama, oksitosin membuat kita menjadi sangat curiga, defensif, dan bahkan agresif terhadap mereka yang berada di luar kelompok kita (out-group).

Secara evolusioner, ini sangat masuk akal. Nenek moyang kita yang hidup berpindah-pindah di sabana purba tidak akan selamat jika mereka sibuk bertengkar sendiri saat ada kawanan singa atau suku kanibal yang mendekat. Otak kita merespons ancaman eksternal dengan menyalakan amigdala—pusat alarm rasa takut di otak. Saat amigdala menyala karena ada "musuh bersama", otak secara otomatis menekan konflik internal dan membanjiri tubuh dengan oksitosin agar kita langsung bersatu. Membenci musuh bersama adalah mekanisme pertahanan hidup paling purba yang tertanam di DNA kita.

V

Jadi teman-teman, ketika kita merasa mendadak akrab dengan seseorang hanya karena kita membenci hal yang sama, itu bukanlah sebuah kebetulan mistis. Itu adalah biologi purba kita yang sedang bekerja. Otak kita sedang memanipulasi kita agar bertahan hidup.

Memahami psikologi kebencian ini membuat kita harus lebih berhati-hati. Di era modern, insting purba ini sering kali diretas dan dieksploitasi oleh mereka yang punya kepentingan. Lihat saja bagaimana para politikus populis atau manipulator ulung sengaja menciptakan "musuh bersama yang fiktif" untuk menyatukan massa dan menutupi kegagalan internal mereka. Sangat mudah membuat orang bersatu dengan cara menakut-nakuti mereka.

Sebagai manusia yang dianugerahi akal budi dan kemampuan berpikir kritis, kita punya pilihan. Kita tidak harus selalu tunduk pada alarm purba di kepala kita. Daripada menggunakan rasa benci sebagai lem perekat kelompok, bukankah jauh lebih indah dan bertahan lama jika kita bersatu karena tujuan bersama? Mari kita mulai menyatukan retakan di sekitar kita bukan dengan mencari siapa yang harus dimusuhi, melainkan dengan mencari apa yang bisa kita perbaiki bersama-sama.